YouTube Gallery

Youtube Gallery: Video List and Theme not selected.

Join Our Facebook

MATAHARI PEDULI PEKERTI

Print PDF

MATAHARI PEDULI PEKERTI DAN KARAKTER ANAK INDONESIA

 

 

 



 

 

 

Minimnya pekerti dan karakter anak dan remaja Indonesia telah menciptakan berbagai permasalahan psikososial sampai permasalahan hukum yang melibatkan anak dan remaja Indonesia, seperti : prestasi rendah, ketidakharmonisan dalam keluarga, pornografi dan porno aksi sampai kekerasan, kekerasan seksual, narkoba, bunuh diri, pencurian dan perampokan dan lain-lain.

 

Dibutuhkan komitmen kuat dan kerjasama yang erat dari semua pihak, meliputi : pemerintah, media, masyarakat, sekolah dan terutama keluarga untuk melakukan revolusi psikologis terhadap proses tumbuh kembang anak Indonesia di tengah ancaman perkembangan teknologi yang begitu cepat, gaya hidup, tekanan ekonomi, tekanan kelompok, pengaruh media informasi yang tidak sensitif, menurunnya nilai moral, dan fakta bahwa konflik keluarga semakin meningkat.

 

Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat memiliki peran yang sangat penting untuk memastikan proses tumbuh kembang anak dan remaja Indonesia sesuai dengan pemenuhan hak-hak dasar anak dan mampu memberikan stimulasi maksimal sepanjang 10 tahun pertama masa keemasan perkembangan mereka.

 

Atas dasar kepedulian yang sangat tinggi terhadap kualitas pekerti anak dan remaja Indonesia, MATAHARI (komunitas lintas profesi : psikolog, musisi, dan media kreatif) telah merintis gerakan MARI PEDULI PEKERTI DAN KARAKTER ANAK INDONESIA, yang menggunakan acara PARADE BINTANG sebagai momentum awal di Galeri Indonesia Kaya – Jarum Foundation tanggal 29 April 2014 lalu.

 

Selanjutnya MATAHARI akan menumbuhkan kesadaran masyarakat, melalui berbagai kegiatan, antara lain :


1. Video miniseries MATAHARI, yang menampilkan 32 modul nilai pekerti oleh para bintang MATAHARI dalam kemasan gerak dan lagu, didukung oleh FARABI MUSIC SCHOOL musisi DWIKI DHARMAWAN



 

2. Materi pelatihan MATAHARI, berupa modul-modul pelatihan dan fasilitator Psikologi, didukung oleh KASANDRA & ASSOCIATES - Psikolog A. KASANDRA PUTRANTO.




3. Kampanye media social, berupa filler dan event-event yang menarik didukung oleh OPTIMA - media kreatif JUDY UWAY



4. Konsep RUMAH MATAHARI untuk dapat dikembangkan di seluruh Indonesia, sebagai berikut :

 

A. RUMAH MATAHARI adalah model rumah yang memiliki kehangatan MATAHARI dengan kehadiran figure AYAH MATAHARI, IBU MATAHARI dan ANAK MATAHARI, yang memiliki komitmen untuk mengembalikan fungsi keluarga sebagai wadah pembentukan pekerti dan karakter anak-anak, calon penerus masa depan bangsa.


B. RUMAH MATAHARI bisa dimulai dari sebuah ruangan khusus dalam rumah, dimana figur ayah dan ibu MATAHARI menyediakan waktu dan tenaga ekstra untuk memaksimalkan proses tumbuh kembang anak mereka.

 

C. RUMAH MATAHARI juga bisa dikelola secara bersama dalam lingkaran kekerabatan atau masyarakat, demi efektifitas dan efisiensi waktu, tenaga dan biaya.

 

D. RUMAH MATAHARI menyediakan sarana dan prasarana dasar minimal, berupa : buku, perangkat media informasi, beberapa mainan, poster, papan informasi, papan tulis dan bantal.

 

E. RUMAH MATAHARI menyediakan kegiatan minimal 3 kali seminggu untuk belajar prinsip dasar pekerti yang disajikan dalam bentuk:


1. Dongeng yang dibacakan atau diceritakan kembali oleh ayah dan ibu MATAHARI.


2. Video mini series yang didampingi oleh ayah dan ibu MATAHARI.


3. Diskusi dan Komunikasi terbuka membahas dongeng dan mini series serta terutama memastikan pemahaman anak.


4. Latihan Praktis Ketrampilan Pekerti dan Karakter, a.l : mengenali diri, percaya diri, mengenali batasan dalam bergaul, sikap asertif, kemampuan bersosialisasi, etika dan sikap positif, mengenali ancaman bahaya di sekitar serta menerapkan nilai etika dan pekerti dalam kehidupan sehari-hari.


5. Penyuluhan / konsultasi /diskusi kelompok tentang permasalahan dalam keluarga, dengan menghadirkan konselor atau tenaga ahli lainnya, minimal sebulan sekali.


6. Pemeriksaan kesehatan untuk memeriksa kesehatan ibu dan anak, minimal 6 bulan sekali.


7. Identifikasi Minat dan Penyaluran Minat melalui buku, video atau kehadiran langsung tokoh-tokoh fasilitator berbagai ketrampilan, mulai dari seni, budaya, olah raga dan ketrampilan lainnya terutama yang terkait dengan pelestarian budaya, misalnya kerajinan daerah setempat.


8. Pengenalan Dunia Kerja melalui buku, video atau kehadiran langsung tokoh professional dengan tujuan menumbuhkan minat, semangat dan tujuan anak terhadap masa depan.


9. Pengenalan Industri Kreatif dan Wirausaha melalui buku, video atau kehadiran langsung tokoh wirausaha dengan tujuan menumbuhkan semangat kreatif dan wirausaha, termasuk belajar menciptakan produk kreatif anak dan orang tua.


10. Pengenalan Budaya dan Sejarah Bangsa melalui buku, video atau (jika memungkinkan) kesempatan study tour dengan tujuan mengenali, mengetahui berbagai wilayah lain di Indonesia demi menumbuhkan kecintaan kepada negeri.

 

 

MATAHARI menyelenggarakan pertemuan periodic untuk setiap pengelola RUMAH MATAHARI, dengan tujuan :


1. Memberikan informasi dan materi buku / video mini series untuk pergunakan dalam mengelola RUMAH MATAHARI


2. Menyediakan kesempatan pameran produk kreatif bersama anak dan orang tua untuk dipublikasikan kekhayalak ramai.


3. Mengupayakan kegiatan seminar dan workshop di tiap wilayah Indonesia bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat untuk memberikan informasi-informasi baru dan solusi pemecahan masalah setiap RUMAH MATAHARI.


4. Menghadirkan tokoh-tokoh dan fasilitator nasional untuk dapat bertukar informasi berdiskusi tentang permasalahan yang dihadapi.


5. Mengupayakan kehadiran 5 bintang MATAHARI dalam bentuk penampilan Live (road show kesetiap kota).

 



 

BROSUR


 

 


 

 

 

 



 

 

RANGKAIAN KEGIATAN :


a. Gerakan awal rangkaian kegiatan untuk menumbuhkan Peduli Pekerti dan Karakter Anak pada tanggal 29 April 2014, di Auditorium Galeri Indonesia Kaya Grand Indonesia - West Mall 8th Floor, Jl. MH. Thamrin No. 1, Jakarta.


 

b. Kota Kasablanka Mall, pada tanggal 9 Mei 2014


 

c. Kota Kasablanka Mall, pada tanggal 10 Mei 2014

 

 

d. Matahari Peduli Pekerti, Kasandra & Associates dan Ikatan Psikologi Klinis - Himpsi Jakarta mendukung acara Festival hari Museum International dan 236 tahun Museum Nasional Indonesia dengan menampilkan Bintang MATAHARI, pada hari Sabtu tanggal 24 Mei 2014.

 

 

e. Psikoedukasi Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual pada anak (GN AKSA) di Sekolah SD Bhakti Mulia, pada tanggal 11 - 12 Juni 2014

 

 

f. Matahari Peduli Pekerti, Kasandra & Associates dan Ikatan Psikologi Klinis - Himpsi Jakarta mendukung launching Gerakan Anak Bangsa Anti Narkoba di Indosat, 12 Juni 201 bersama BNN dan Panasonic

 

 

g. Matahari Peduli Pekerti, Kasandra & Associates dan Ikatan Psikologi Klinis-Himpsi Jakarta dalam Forum Diskusi mengenai Anti Kejahatan Seksual terhadap Anak di Kongres Wanita Indonesia, pada hari Senin tanggal 23 Juni 2014.

 

 

h. Matahari Peduli Pekerti, Kasandra & Associates dan Ikatan Psikologi Klinis-Himpsi Jakarta dalam rapat Gerakan Anak Bangsa Anti Narkoba bersama BNN, Globe dan Ka Seto Mulyadi pada hari Rabu tanggal 25 Juni 2014

 

 

i. Seminar Nasional pengasuhan anak berkualitas Dalam mendukung Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual pada Anak (GN AKSA) Bersama Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, pada hari Selasa tanggal 15 Juli 2014.



j. Psikoedukasi Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual pada anak (GN AKSA) di Sekolah SD Morocco Islamic School , pada Juli 2014


 

k. Launching Album Lagu Anak Matahari Peduli Pekerti bersama Akoe Indonesia




 

Kisah dibalik pembuatan Album Lagu Anak : Allequa Perucha

MATAHARI Peduli Pekerti


MATAHARI adalah sebuah wadah bagi komunitas lintas profesi psikolog (A. Kasandra Putranto), musisi+seniman budaya (Dwiki Dharmawan), ahli media kreatif (Judy Uway dan Uti Rahardjo) yang merintis gerakan Peduli Pekerti Anak Indonesia. Berangkat dari kepedulian atas perkembangan sikap dan perilaku anak dan remaja Indonesia masa kini, ditengah tantangan kesulitan ekonomi, kesibukan orang tua, arus globalisasi, gaya hidup, tekanan kelompok dan pengaruh media negatif, yang acara kick off nya juga diselenggarakan di Galeri Indonesia Kaya bulan April 2014, dengan para bintang MATAHARI 1 : Allequa Perucha, Kibby Fayruzha, Laetitia Qatra, Raisa Rahmi dan Saybia Valeska.


Selama ini MATAHARI sudah berupaya melaksanakan berbagai kegiatan inspiratif  untuk menumbuhkan pekerti dan membentuk karakter  Anak Indonesia, antara lain : kegiatan bersama Jakarta Marketing Week Hermawan Kartadjaya, kegiatan Cinta Museum bersama Museum Nasional, kegiatan bersama Gerakan Anak Bangsa, dan kegiatan psikoedukasi tentang kekerasan fisik, kekerasan psikis dan kekerasan seksual di sekolah-sekolah, komunitas perempuan, kegiatan Cinta Batik bersama Batik Betawi Terogong dan Ikatan Perempuan Profesional dan lain-lain.


Matahari juga merintis konsep RUMAH MATAHARI yang mampu memberikan kehangatan dan stimulasi maksimal bagi anak, serta kampanye media sosial  di facebook, twitter dan youtube.


Di tahun 2015 ini MATAHARI  ̶  mempersembahkan album CD MATAHARI Peduli Pekerti Anak Indonesia atas inisiasi dan kolaborasi antara A. Kasandra Putranto, Dwiki Dharmawan, dan Uti Rahardjo. Persembahan lagu oleh Allequa Perucha (finalis Little Miss Indonesia 2013). Lagu-lagu yang disajikan adalah karya Budiawan/akZAra dan sebuah lagu lawas dari Dwiki Dharmawan/Mira Lesmana, ditujukan untuk anak-anak usia 2 – 15 tahun, yang mengandung beberapa nilai pekerti seperti : kesadaran untuk menjaga kebersihan tubuh dan melindungi diri, anti kekerasan, menumbuhkan minat dan meraih cita-cita, sopan santun, memahami perbedaan dan anti diskriminasi, meraih masa depan gemilang, dengan lagu-lagu :


1. Menjadi Astronot - Allequa Perucha cipt. Budiawan

2. Stop (Jangan Menyakiti) - Allequa Perucha cipt. Budiawan

3. Gemilang - Allequa Perucha cipt. Dwiki Dharmawan dan Mira Lesmana

4. Salaman - Allequa Perucha cipt. Budiawan

5. Jagalah Tubuh Kita - Allequa Perucha cipt. Budiawan

6. Melihat Dengan Hati – Allequa Perucha dan Uchy Amyrtha cipt. Budiawan


Pihak-pihak yang turut mendukung keberhasilan dari CD Album MATAHARI Peduli Pekerti ini adalah :  Kasandra & Associates, Farabi Music School, Creative Culture Indonesia, Optima, Mata Air Production, Uchy Amyrtha KSP Band, teman-teman Allequa dari kelas 2 B sekolah Bhakti Mulya beserta para orang tuanya, Ramaditya Adikara, Asti Asmodiwati, Lulu Gutawa dan studio Erwin Gutawa, Colin Hanifa, Sampoerna Strategic, Tonny Mucharam, Ari Marifat, Alfi Ratnamalinda / Nadya Irma Mulia, Caron Toshiko dan Ikatan Perempuan Profesional.


MATAHARI berharap agar CD ini dapat diproduksi lebih banyak untuk diberikan secara cuma-cuma kepada seluruh anak Indonesia yang akan disalurkan melalui sekolah-sekolah di Indonesia. Untuk itu MATAHARI mengharapkan dukungan yang lebih banyak dari para pemerhati anak yang memiliki kepedulian yang sama.

· Berbagi inspirasi perjuangan pekerti-prestasi kepada seluruh anak dan keluarga Indonesia,
· Memperoleh dukungan donatur dan sponsorship untuk mendistribusikan album CD lagu anak MATAHARI Peduli Pekerti yang disalurkan melalui sekolah-sekolah di Indonesia.

 

1. Tuhan mempertemukan kami semua

Enam bulan setelah diluncurkannya program MATAHARI Peduli Pekerti yang kegiatan utamanya berbagi inspirasi untuk kembali menumbuhkan nilai-nilai pekerti anak Indonesia melalui beberapa kegiatan off air dan kampanye media sosial, A. Kasandra Putranto menerima telepon dari seorang teman sejawat Psikologi, Reza Indragiri. Beliau menawarkan untuk bertemu dengan seorang guru TK (Budiawan/akZAra) yang ingin menjual beberapa lagunya untuk membiayai kelahiran anak keduanya. Dengan semangat MATAHARI, A. Kasandra Putranto mengajak timDwiki Dharmawan, yaitu Hasyim untuk membahas kemungkinan memproduksi album lagu anak MATAHARI PEDULI PEKERTI. Di bulan November 2014, MATAHARI sepakat untuk menggagas Album Lagu Anak Indonesia.


2. Persiapan rekaman

Setelah kesepakatan antara Budiawan akZAra dan A. Kasandra Putranto ditanda tangani, Budiawan segera menyelesaikan 5 lagu pilihan, terutama mengutamakan nilai-nilai pekerti yang diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mendukung gerakan revolusi mental masyarakat Indonesia, dimulai dari anak agar menyanyikan lagu-lagu yang tepat sesuai umur mereka.

Beberapa lagu sempat diperbaiki lirik dan nadanya, untuk benar-benar disesuaikan dengan tujuan pekerti dan kemampuan mental anak usia 6-12 tahun untuk dapat menyanyikan lagu-lagu tersebut. Akhirnya berhasil dipilih lagu-lagu berjudul : Jagalah Tubuh Kita, Stop (Jangan Menyakiti), Menjadi Astronot, Salaman, Melihat Dengan Hati, dan ditambah lagu lawas karangan Dwiki Dharmawan / Mira Lesmana berjudul Gemilang.

Pilihan pertama untuk menjadi penyanyi album ini adalah Allequa Perucha, finalis top 20 Little Miss Indonesia, bersama dengan kelompok MATAHARI 1 yang selama ini sudah berjuang bersama berbagi inspirasi peduli pekerti, yaitu : Kibby Fayruzha, Laetitia Qatra, Raisha, Saybia Valeska. Namun dengan alasan kesibukan, ke 4 bintang Matahari 1 tidak dapat bergabung dengan rencana ini.

A. Kasandra Putranto mencoba mengajak teman-teman yang memiliki anak dengan usia sebaya Allequa, seperti : Alaika (putri dari Nita Bonita), Aura (putri dari Lulu Gutawa, Amabelle (putri dari Aurora), Audrey (putri dari Ana Yuking), Aurelia (putri dari Ika) yang kebetulan semua namanya berawalan dengan huruf A, dengan harapan agar bisa sekaligus membentuk grup girlsband MATAHARI 2.Namun sayang, waktu dan kesempatan belum memungkinkan saat itu, sehingga Allequa sendiri yang harus melakukan proses rekaman di studio MUSIKITA milik Dwiki Dharmawan di daerah Bintaro, dibantu operator Jerry dan vocal coach Tonny Mucharam. Pengalaman pertama rekaman di studio  merupakan hal yang luar biasa bagi Allequa Perucha, ia sangat bersemangat dan gigih untuk selalu mengulang bagian-bagian yang belum sempurna.  Dengan jadwal 4 hari rekaman, Allequa berhasil menyelesaikan 4 lagu dengan dibantu Vocal Coach Tonny Mucharam dan A. Kasandra Putranto sebagai backing vocal.

Lagu pertama. Jagalah Tubuh Kita berisikan nilai-nilai kebersihan tubuh sebagai anugerah Tuhan Yang Maka Kuasa dan peringatan untuk sanak agar selalu menjaga tubuhnya serta tidak mengizinkan siapapun menyentuhnya. Lagu ke dua, Stop ( Jangan Menyakiti) berisikan nilai-nilai anti kekerasan, mengajak anak untuk mampu melindungi diri dan berani melawan kekerasan dengan cara yang simpatik melalui lagu. Lagu ke tiga, Menjadi Astronot berisikan nilai-nilai menumbuhkan minat anak sejak dini, yang merupakan kewajiban orang tua untuk memperkenalkan berbagai fokus minat kepada anak agar anak terinspirasi sejak dini terhadap nilai prestasi disamping pekerti. Lagu ke empat, Salaman berisikan nilai-nilai akhlak kesopanan kepada teman, guru dan orang tua. Lagu kelima (Melihat dengan Hati) berisikan nilai-nilai peduli dan empati kepada orang-orang yang memiliki kekhususan hambatan penglihatan.  Lagu ke enam (Gemilang) berisikan nilai-nilai semangat menggapai cita-cita dan masa depan gemilang. Susunan lagu ini disesuaikan dengan tingkat kemampuan mental anak-anak dalam rentang usia 3 – 12 tahun.

Dalam perjalanan rekaman, A. Kasandra Putranto menilai lagu Melihat dengan Hati sulit untuk dinyanyikan sendiri oleh Allequa Perucha, namun tidak serta merta dibatalkan karena ingin mencapai sasaran anak-anak dengan usia 10 – 12 tahun. Oleh karena itu, Uchy Amyrtha dari KSP band diajak bergabung dan aransemen musiknya dibantu oleh Ari Marifat, dan produksi videonya oleh Caron Toshiko dari Kasandra Associates.


3. Persiapan Produksi dan Launching Album

Libur Natal dan Tahun Baru sempat menghambat proses persiapan produksi, namun tidak menghambat semangat Allequa Perucha dan seluruh tim produksi. Kegiatan tetap berlanjut dengan upaya mempersiapkan produksi album dan acara peluncuran Album. Uti Rahardjo (Creative Culture Indonesia) bersama tim kreatif nya (Andra Soeharto dkk) mulai bekerja merancang design cover CD Album. A. Kasandra Putranto bersama tim psikologi nya (Rianti, Caron, Fenny, Widodo) mulai mencari lokasi acara, memesan restoran, membuat undangan dan mempersiapkan peralatan. Dwiki Dharmawan bersama tim produksinya (Hasyim, Stondly dkk) melanjutkan proses mixing, mastering dan duplikasi CD. SementaraAsti Asmodiwati yang awalnya sempat diajak bergabung untuk ikut menyumbangkan suara emasnya, memilih untuk mengerjakan video bersama Alfi Ratnamalinda dan Nadya Irma Muliauntuk lagu Jagalah Tubuh Kita, Stop, Menjadi Astronot dan Salaman. Sementara Caron Toshiko berperan dalam proses shooting dan editing video Melihat dengan Hati dan Gemilang. Beberapa lokasi shooting diperoleh atas dukungan dan kerjasama dari Wisma Soeboed, kediaman ibu Colin Hanifa, Sampoerna Strategic, studio Erwin Gutawa dan kediaman A. Kasandra Putranto.


4. Persiapan Press Conference dan Penampilan Allequa Perucha dkk di Galeri Indonesia Kaya Grand Indonesia

Tanggal 4 Februari adalah waktu yang diberikan oleh Galeri Indonesia Kaya di Grand Indonesia atas dukungan Djarum Foundation. Susunan acara segera disusun, restoran harus dipesan, dan undangan harus disebar, terutama instansi pemerintah yang diharapkan berkenan memberikan dukungan.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia dengan ketuanya Bp. Asrorun Niam dan sekjen Ibu Erlinda Iswanto adalah instansi pertama yang segera memberikan dukungan kepada MATAHARI PEDULI PEKERTI, dan karenanya logonya sempat masuk di semua materi cetak album ini.

Namun kelompok Matahari 1 yang awalnya berkenan mendukung ternyata tidak bisa hadir dan mendukung acara, sementara penampilan tunggal Allequa Perucha tentu akan kurang semarak. MATAHARI harus punya ide lain.

Tepat 3 minggu sebelum acara, A. Kasandra Putranto menawarkan kepada teman-teman Allequa Perucha, kelas 2 B SD Bakti Mulya 400 untuk ikut menampilkan lagu-lagu Album Lagu Anak dalam bentuk drama musikal, yang langsung disambut baik oleh 9 anak melalui orang tuanya masing-masing.

Aurelia, Aura, Seira, Prussian, Audrey, Reyhan, Dhaffy, Nelsh dan Mika sangat bersemangat latihan setiap hari Senin, Rabu dan Jumat. Para orang tua mereka (Ika, Lulu Gutawan, Yuri, Wendy, Ana, Wine, Dian, Wilya, Eyang Lina dan Temmy) sangat mendukung setiap latihan, mulai dari persiapan makan siang, tempat latihan, kostum, mic dan lain-lain.

Pak guru Fery dan Ms. Dian, wali kelas dan guru pembimbing kelas 2 B SD Bakti Mulya juga sangat mendukung persiapan latihan anak-anak, sambil tidak lupa selalu mengingatkan tugas dan tanggung jawab di sekolah. Pak Muhammad Budiyono, kepala sekolah turut andil mendukung dengan memberikan ijin tidak masuk sekolah pada hari Rabu, 4 Februari 2015.


5. Acara Launching Album Lagu Anak 4 Februari 2015

Pada hari yang ditunggu-tunggu, panitia MATAHARI menerima konfirmasi kehadiran dari :

· Bp. Asrorun Niam dan ibu Erlinda Iswanti, ketua dan sekjen Komisi Perlindungan Anak Indonesia

· Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak diwakili oleh ibu Evi, asisten deputi Menteri bidang Tumbuh Kembang.

· Bhayangkari Mabes POLRI diwakili oleh ibu Ana dan Ibu Dona

· Pemerintah DKI diwakili oleh Bp. Arie Budiman kepala dinas Pendidikan DKI Jakarta, yang hari itu diwakili lagi oleh Bp. Sujadiono.

· Kementerian Informasi dan Teknologi sempat menyatakan kesediaannya untuk hadir namun sayangnya pada saat terakhir memberi kabar ketidak hadiran.

Acara dimulai dengan sambutan dari A. Kasandra Putranto yang menjelaskan perjalanan MATAHARI PEDULI PEKERTI sejak tahun 2014, dilanjutkan dengan paparan dari tim AKOE INDONESIA (Dwiki Dharmawan, A. Kasandra Putranto, Yudi Latif dan Witjaksono) yang diwakili oleh  Witjaksono. Bergabungnya Matahari Peduli Pekerti dan Akoe Indonesia adalah karena kesamaan misi dan visi untuk menghasilkan generasi muda Indonesia yang sarat pekerti dan prestasi.

Dukungan adik kecil Aqilla Herby (top 7 Little Miss Indonesia I) sebagai pembuka acara drama musikal semakin memeriahkan penampilan kelompok MATAHARI 2, terutama saat Dwiki Dharmawan naik ke atas panggung dan memimpin acara tweet bersama.  Sampai acara puncak drama musikal menampilkan Allequa Perucha dan teman-teman semakin meriah dengan kehadiran ibu guru Uchy Armytha dan bapak guru Ramaditya Adikara di lagu Melihat Dengan Hati.


6. Distribusi CD ke sekolah-sekolah

Selepas acara Launching Album Lagu Anak, MATAHARI masih memiliki tugas mulia untuk merealisasikan rencana mendistribusikan CD Album kepada seluruh anak Indonesia secara cuma-cuma. Untuk itu berbagai kegiatan road show dan promosi promosi di radio, media cetak, televisi masih dilakukan untuk menggalang dana lebih banyak agar mampu mencakup lebih banyak sekolah-sekolah di Indonesia.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mempromosikan melalui youtube. Satu persatu lagu-lagu Allequa Perucha dalam album Matahari Peduli Pekerti Anak diunggah ke youtube.


7. Harapan MATAHARI PEDULI PEKERTI ANAK

 

MATAHARI berharap dapat terus menumbuhkan inspirasi sarat pekerti dan prestasi bagi anak Indonesia, bahkan dapat mengajak lebih banyak lagi pihak-pihak yang memiliki kepedulian yang sama untuk menghasilkan generasi muda calon pemimpin masa depan Indonesia yang berbudaya, berjiwa Pancasila, berkarakter dan perilaku sesuai Pancasila dan memiliki jiwa wiraswasta. CARE FOR THE CHILDREN

 

 

 



 

 

 

Upaya menanggulangi kejahatan seksual pada anakyang dapat dilakukan oleh

Kasandra & Associates, Ikatan Psikologi Klinis dan Asosiasi Psikologi Forensik

 

 

 


1.     Advokasi


A. Mendorong kebijakan menolak pejabat pemerintah yang mempunyai track   record pernah melakukan kejahatan seksual.

B. Ikut berpartisipasi kampanye stop kejahatan seksual yang dikemas dalam berbagai  kegiatan antara lain Kids Festival.

C. Mendorong pembahasan Undang-undang tindak kejahatan seksual, termasuk meningkatkan sanksi hukuman dan system database korban dan pelaku kejahatan seksual

D. Membuat video dokumenter tentang bahaya kejahatan seksual pada anak.

 


2.     Preventif


A. Membuat program IT di internet untuk memberantas predator seks.

It is interesting that the NIBRS data from 2000 show that most child pornography crimes reported did not involve a computer or the Internet but were related to photographs, magazines, and videos (40). Recent studies have noted a decrease in Internet-related child pornography because of pressure from Internet "watchdog" groups and an increased police presence on the Internet (41, 42).(A Profile of Pedophilia: Definition, Characteristics of Offenders, Recidivism, Treatment   Outcomes, and Forensic Issues, http://focus.psychiatryonline.org/article.aspx?articleID=53036)


B. Penyuluhan anti kejahatan seks terhadap psikolog pendidikan dan guru-guru TK sampai dengan SMA untuk diberikan pembinaan kepada murid-muridnya.


C. Membuat profil pedofil dan deteksi dini pedofil di sekitar kita.


D. Pembinaan orangtua dalam tumbuh kembang anak, cara menjalin kedekatan emosi dan komunikasi dengan anak.


E. Sistem pengamanan dan keamanan bagi anak


F. Peningkatan fungsi keluarga demi memastikan proses tumbuh kembang anak yang maksimal. Kasandra & Associates telah merintis konsep RUMAH MATAHARI : rumah yang memberikan kehangatan kepada setiap anggota keluarga dengan memaksimalkan fungsi ayah matahari, ibu matahari dan anak matahari. Di masa lalu kita memiliki film mini series tentang keluarga mulai dari Little House on the Prairie, The Cosby Show, Losmen, Rumah Cemara dan lain-lain yang positif dan efektif memberi inspirasi kepada masyarakat.


G. Membuat daftar hitam pelaku kekerasan seksual dan database korban kejahatan seksual dengan metode fingerprint.

 


3.     Intervensi


A. Pembinaan kepada para psikolog dan terapis dalam melakukan penanganan dan intervensi korban dan pelaku kejahatan seksual.

B. Intervensi psikologis yang berkesinambungan bagi anak-anak korban kejahatan seksual.

C. Intervensi psikologis yang berkesinambungan bagi pelaku kejahatan seksual.

D. Penelitian terhadap pedofil dan pelaku kejahatan seksual di Indonesia, seberapa ampuhnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam menurunkan angka perilaku kekerasan seksual.

 

 

FAKTOR PENYEBAB

MARAKNYA KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK DI INDONESIA

 


1. Ancaman hukuman yang relatif ringan dan sistem penegakan hukum lemah, memerlukan pengorbanan biaya dan pengorbanan mental yang sangat tinggi cenderung membuat korban menghindari proses hukum. Proses hukum yang rumit dan berbelit-belit, penanganan yang kerap tidak manusiawi, dan ancaman hukuman minimal 3 tahun maksimal 15 tahun membuat kasus-kasus kekerasan seksual tenggelam selama bertahun-tahun dan membiarkan para korbannya tumbuh tanpa intervensi psikologis yang tepat. Sejak kasus RG tahun 1996, kasus kekerasan seksual kepada anak jalanan, praktis semua pihak belum cukup melakukan tindakan yang berarti. Saat negara lain sudah berani menerapkan ancaman hukuman mati, kebiri, sistem ‘black list’ serta berbagai kebijakan untuk menahan laju dan ledakan kekerasan seksual, Indonesia seolah-olah jalan di tempat terutama karena ada budaya malu dan tidak berani mengakui fakta ini sebagai masalah besar. Sudah sangat mendesak adanya daftar pelaku dan korban kekerasan seksual yang tidak hanya mencatat nama, alamat, identitas lain dan wajah, namun menggunakan metode fingerprint yang disimpan oleh institusi Negara demi menjaga kerahasiaannya. Masyarakat yang ingin merekrut pegawai untuk bekerja di fasilitas anak dapat mengirimkan data fingerprintnya ke institusi Negara untuk memperoleh kepastian apakah yang bersangkutan memiliki riwayat kekerasan seksual atau tidak. Dalam hal ini, kami sangat yakin bahwa praktek ini sudah sangat dimungkinkan dengan perkembangan teknologi saat ini. Satu-satunya hambatan adalah masalah HAM yang seharusnya bisa diatasi dengan metode kerahasiaan data dan penyimpanan di institusi Negara.


2. Nutrisi fisik hormon yang terkandung dalam makanan masa kini semakin membuat individu anak matang sebelum waktunya, yang sudah matang menjadi lebih tinggi dorongan seksualnya.


3. Nutrisi psikologis : tayangan kekerasan, seks dan pornografi melalui berbagai media telah mencuci otak masyarakat Indonesia dengan karakter iri, dengki, kekerasan, dan pornoaksi. Termasuk di dalamnya lagu-lagu yang semakin tidak kreatif, isi dan tampilannya hanya seputar paha dan dada telah semakin merusak mental masyarakat Indonesia.


4. Perkembangan IT (internet) dan kemudian perangkat gadget yang memungkinkan transfer dan transmisi materi porno secara cepat dan langsung ke telapak tangan. Pada tahun 2000, kami bersama bapak Roy Suryo dan bersama IPK dan Telkom membawakan materi tentang bahaya internet. Bapak Roy Suryo menegaskan tidak ada satupun yang dapat menahan laju perkembangan internet selain resistensi mental. Oleh karena itu Kasandra & Associates (yang berdiri tahun 1996) giat menyuarakan pentingnya resistensi mental dan proses tumbuh kembang pada anak, namun hasilnya masih belum memuaskan. Sepanjang 16 tahun, kami justru menerima peningkatan masalah-masalah klinis pada masyarakat yang umumnya berkait dengan proses tumbuh kembang dan disfungsi keluarga.


5. Fungsi otak manusia yang khas, neurotransmitter, kapasitas luhur manusia telah membuat individu menjadi kecanduan seks, terutama pada individu di bawah 25 tahun dalam masa perkembangan mereka.Dalam hal ini, ibu Elly Risman lebih piawai menjelaskan terutama dengan hasil penelitiannya selama beberapa tahun, bahwa anak dan remaja Indonesia telah mengalami adiksi pornografi. Kami pernah bersama-sama membawakan materi adiksi pornografi dan dampaknya terhadap otak anak dan remaja yang kapasitas luhurnya belum berkembang baik di ajang temu ilmiah IPK (Ikatan Psikologi Klinis) dan APSIFOR (Asosiasi Psikologi Forensik) pada tahun 2008, tetapi reaksi saat itu umumnya masih  menganggap adiksi pornografi tidak mengandung unsur forensik.


6. Lack Of safety dan security system yang tidak benar-benar melindungi anak dan perempuan bersamaan dengan memudarnya pendidikan nilai-nilai pekerti dan karakter anak Indonesia. Pendidikan hanya menjadi hafalan teoritis semata, termasuk pendidikan agama, norma hukum dan norma sosial.Oleh karena itu, Kasandra & Associates bersama Farabi (Dwiki Dharmawan) dan Optima (Judy Uway) merintis gerakan MATAHARI Peduli Pekerti Anak sejak April 2014.


7. Gaya hidup dan kesulitan ekononi yang menuntut kesibukan orang tua yang luar biasa, a.l : double income mendorong ayah ibu banyak di luar rumah, anak kehilangan kesempatan belajar cara melindungi diri. Situasi ini semakin dipersulit dengan semakin robohnya pilar keluarga dengan Angka Kematian Ibu yang masih tinggi, perempuan terpaksa keluar rumah untuk bekerja menjadi TKW atau merantau ke kota besar meninggalkan anak-anak, perempuan korban kekerasan dan terjerat konflik rumah tangga, perempuan terjebak biusan tayangan media yang tidak edukatif, sementara figur ayah justru sebagai model kekerasan atau ketidak pedulian terhadap proses tumbuh kembang anak, maka rumah yang diharapkan sebagai wadah pembentukan karakter dan kepribadian anak menjadi kehilangan fungsi dasarnya. Anak-anak tumbuh dan berkembang sendiri atau oleh media yang justru semakin menggerus nilai-nilai pekertinya dan kehilangan kesempatan untuk menguasai berbagai ketrampilan asertif untuk melindungi diri, bahkan mereka mencari kasih sayang dan uang dari orang lain yang justru menjadi monster yang merenggut masa depan mereka. Fenomena ini mirip dengan gejala Stockholm syndrome dimana korban penculikan justru menaruh iba dan memiliki ketergantungan emosional kepada pelaku penculikan dan pelaku kekerasan terhadapnya.


8. Persepsi masyarakat tentang pendidikan kesehatan reproduksi dan upaya perlindungan diri cenderung ditolak,diterjemahkan sederhana sebagai pendidikan seks dan bahkan diabaikan  yangpada akhirnya justru menghambat proses persiapan perlindungan anak. Batas usia awal untuk mulai memberikan pendidikan ini kepada anak juga menjadi kontroversi. Kasandra & Associate meyakini batas usia untuk mulai mengajarkan adalah sejak dalam kandungan, berupa disiplin ibu untuk menjaga kehamilannya seperti nutrisi sehat dan kegiatan teratur, yang dilanjutkan pasca persalinan. Anak-anak yang terbiasa hidup teratur sejak dini (hidup sehat, makan sehat, nonton sehat), lebih mudah diarahkan untuk memilih hanya yang baik bagi dirinya dan menghindari hal-hal yang buruk dalam hidupnya.


9. Sistem sosial masyarakat yang masih banyak mengandung kekerasan gender atau tokoh otoritas kerap menjadi penyebab makin suburnya praktek kekerasan seksual karena figur laki laki atau tokoh otoritas pelaku kejahatan seksual dianggap tidak bersalah dan lebih menyalahkan perempuan atau korban sebagai penyebab. Banyak kasus kekerasan seksual oleh tokoh laki-laki dan otoritas (kaya atau berkedudukan) justru dimaklumi oleh masyarakat dan bahkan balik menyerang atau menyalahkan korban.


10. Fakta bahwa kekerasan dan kekerasan seksual telah terjadi dimana saja, rumah, sekolah, klub olah raga, pengajian, sekolah minggu dan lain lain. Praktek membela diri dan mengalihkan isu kekerasan seksual kepada hal lain justru semakin menyuburkan kekerasan seksual. Sudah saatnya kita semua mengambil peran dan tanggung jawab : pemerintah, masyarakat, sekolah, keluarga dan media.


11. Persepsi sosial yang berkembang di masyarakat membuat korban tidak berani melapor, predator lepas. Sudah melapor pun tidak ditangani dengan baik bahkan ada yang mengalami kekerasan baru, baik fisik, verbal maupun kekerasan seksual tambahan.


12. Hampir tidak ada tindakan berarti sejak kasus RG tahun 1996 yang telah berakibat pada ledakan kekerasan seksual di masa kini. Termasuk dengan tidak adanya intervensi psikologis yang berkesinambungan terhadap korban dan pelaku, terutama karena layanan psikologis tidak termasuk dalam berbagai paket layanan kesehatan a.l BPJS atau saat penanganan kasus forensik.Ikatan Psikologi Klinis merintis Psikologi untuk Jakarta Sehat yang menyediakan jasa layanan praktek psikologi klinis di puskesmas sejak tahun 2013 dengan model swadaya masyarakat dan dukungan beberapa fakultas Psikologi di Jakarta. Namun karena jangkauan minim, akses terhadap intervensi Psikologi Klinis belum tersedia di seluruh Indonesia, walaupun program telah ditingkatkan menjadi Psikologi untuk Indonesia Sehat sejak tahun 2014. Jangankan psikolog, pasienpun membutuhkan dana transport untuk dapat memperoleh intervensi. Dengan kondisi masyarakat Indonesia yang rawan mitos dan oknum oportunis, perlu ditekankan pula pentingnya Intervensi Psikologis berdasarkan prinsip EBP ( Evidenve Based Practice), agar tidak sembarangan orang berani menawarkan teknik-teknik terapi yang tidak teruji.


13. Fakta bahwa pelaku kekerasan seksual TIDAK HANYA PEDOFIL LAKI-LAKI, tetapi juga ada PEDOFIL PEREMPUAN, ada yang BUKANPEDOFIL, bahkan sudah mulai ada PELAKU ANAK DAN REMAJA sebagai akibat dari pembiaran selama ini.Dengan demikian perlu diperhatikan kembali bagaimana prinsip restorative justice bisa diterapkan dalam penanganan kasus kekerasan seksual oleh anak, tetapi juga tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang berkepentingan. Prinsip Restorative Justice mendahulukan kepentingan anak, dalam hal ini korban dan pelaku anak yang harus benar-benar ditangani dengan hati-hati, jangan sampai terjebak menjadi praktek makelar kasus yang selama ini terjadi dan diakhiri dengan musyawarah penyelesaian finansial semata tetapi mengabaikan unsur intervensi psikologis pada anak, baik sebagai korban maupun pelaku. Dalam hal ini sudah mendesak untuk dibentuk semacam Pusat Pemulihan Anak-Anak korban dan pelaku kekerasan Seksual, terutama agar disimpan database mereka dan dimonitor terus proses tumbuh kembang mereka.

 

 

Mohon dukungan rakyat untuk mendesak berbagai pihak


DPR sbg pembuat kebijakan : rubah UU tingkatkan hukuman. Buat sistem blacklist dan warning dicekal untuk tidak bekerja di fasilitas anak.


Kepolisian dan Kehakiman : prinsip penegakan hukum yang tegas dan penanganan yang khusus untuk korban anak dan perempuan. Jangan sampai korban takut, malu, segan atau malah mengalami kekerasan baru saat memerlukan bantuan hukum


Pemerintah : kembangkan sistem pengamanan dan keamanan di sekolah, tempat les, klub olahraga, pondok pesantren, kursus, SEMUA fasilitas yang menampung anak, termasuk jalanan. Dan serius hentikan tayangan yang mengandung kekerasan seks dan pornografi serta minim moral tidak edukatif


Masyarakat : kembangkan budaya INGAT dan WASPADA. Jangan biarkan terjadi lagi kasus kekerasan seksual di lingkungan kita. Pendidikan seks sejak Dini BUKAN berarti mengajarkan seks tetapi mengajarkan untuk melindungi diri


Orang tua : mari ciptakan sistem pengamanan dan keamanan maksimal bagi anak


Media : untuk lebih bertanggung jawab atas tayangan yang rentan propaganda kekerasan dan pornografi/pornoaksi. Tingkatkan tayangan-tayangan edukatif sebagai unsur media yang paling efektif untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat.